Sebelumnya dibaca ya wahai perempuan, ini nasehat bagus banget. bagi
wanita yg masih bermutiara jagalah, tetapi bagi yg sudah tidak
termutiara, sadarlah tiada apapun mengahalngi diri untuk taubat, Allah
maha pengampun .
----------------------------------------------------------------
Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh
tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah
mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.
Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu
dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan
pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari orang lain
sebelumnya.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus
kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih,
tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami
berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita
keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan
lehernya.
Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu
jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku!
Kuncinya berada di tanganmu.
Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa,
tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan
andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah
parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri
itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling
…! Tolong … tolong… saya kemalingan.
Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.
Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan
laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi
bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.
Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda
kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain
hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa,
wahai puteriku? Coba kau pikirkan!
Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau
ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan
akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk
diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan
dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu
engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak
akan mengampunimu selamanya.
Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan
menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan
atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau
lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang
di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan
mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan
kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.
Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun
juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang
sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu
rumah tangga yang terhormat.
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki
hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih wanita jalang
(nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak
rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang
wanita amoral.
Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita!
Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila,
sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para
gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa
wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha
memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu
daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah
mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang
menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan
beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah,
bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang
buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka
masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan
kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh
karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar
kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal?
Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana
kelanjutannya,
bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk
dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa
yang akan menaruh simpati?
Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan
mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat
itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di
atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek
yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu
sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar
dengan kelezatan sementara?
Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak
perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati
saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila kalian tidak
dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik,
gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang
salah.
Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan
wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah yang benar, akan
tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana
kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.
Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau
dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari
jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan itu
sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh
jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai.
Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita
membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang
bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh
menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di
kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria
di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk
ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya
sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita,
pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan
Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam
jiwa mereka.
Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong bila dilihat dari dua sebab :
Pertama : karena itu semua mereka lakukan untuk
kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat
angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka
bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena
itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali
tidak ada artinya, seperti kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan
ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.
Kedua : mereka bohong oleh karena mereka bermakmum
pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat
memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris,
London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa, pornografi,
pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di
pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala
sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan
masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan„ kesucian dan
petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu
birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab
ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di
sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah
mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan
percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?
Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka
mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya
karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan
kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku,
wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan
terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang
lain kecuali engkau.
Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis,
jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang
alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan kampus.
Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak
memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain
untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah
dari empat orang gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela
putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya
inginkan untuk putri-putriku.
Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain memperkosa
kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali,
begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemukan kembali.
Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau
menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang
engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila
telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkannya, persis
seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging
sedikitpun.
Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini
janganlah engkau percayai. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di
tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah
diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.